Dublin Core
Judul
ANALISIS PENGENDALIAN AIR ASAM TAMBANG
MENGGUNAKAN KAPUR TOHOR PADA KPL AL-14
(TAMAN) SITE TAMBANG AIR LAYA PT BUKIT ASAM
TBK TANJUNG ENIM SUMATERA SELATAN
MENGGUNAKAN KAPUR TOHOR PADA KPL AL-14
(TAMAN) SITE TAMBANG AIR LAYA PT BUKIT ASAM
TBK TANJUNG ENIM SUMATERA SELATAN
Perihal
Air Asam Tambang, Kapur Tohor, PT Bukit Asam Tanjung Enim.
Deskripsi
ABSTRAK
Penelitian ini membahas pengendalian air asam tambang (AAT) menggunakan kapur tohor
(CaO) pada Kolam Pengendapan Lumpur (KPL) AL-14 (Taman) di site Tambang Air Laya
PT Bukit Asam Tbk, Tanjung Enim, Sumatera Selatan. Air asam tambang merupakan limbah
yang terbentuk akibat oksidasi mineral sulfida, yang dapat menurunkan kualitas air dan
merusak lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sistem pengendalian AAT,
menentukan dosis ideal kapur tohor, menghitung biaya pengapuran, serta mengidentifikasi
faktor-faktor yang memengaruhi kebutuhan kapur harian. Metode penelitian yang digunakan
adalah pendekatan eksperimental dan observasional, meliputi uji laboratorium dengan
metode jar test dan pengamatan langsung di lapangan selama periode 28 April hingga 30
Juni 2025. Pengujian dilakukan terhadap sampel air asam tambang dengan variasi dosis kapur
tohor (0–0,5 gr/L) untuk menentukan dosis optimum dalam menaikkan pH dan menurunkan
TSS. Hasil pengujian menunjukkan bahwa dosis ideal kapur tohor untuk menaikkan pH dari
5,20 ke rentang baku mutu (6–9) adalah antara 0,1121–0,2812 gr/L, dengan kebutuhan aktual
sekitar 5 karung/hari. Namun, pemakaian lapangan mencapai rata-rata 10 karung/hari,
menyebabkan pembengkakan biaya hingga Rp 381.600.000/bulan. Faktor utama yang
memengaruhi kebutuhan kapur adalah curah hujan dan aliran run off. Penelitian ini
memberikan rekomendasi penerapan sistem monitoring otomatis dan blending system untuk
meningkatkan efisiensi pengolahan AAT serta mengurangi pemborosan bahan kimia.
Penelitian ini membahas pengendalian air asam tambang (AAT) menggunakan kapur tohor
(CaO) pada Kolam Pengendapan Lumpur (KPL) AL-14 (Taman) di site Tambang Air Laya
PT Bukit Asam Tbk, Tanjung Enim, Sumatera Selatan. Air asam tambang merupakan limbah
yang terbentuk akibat oksidasi mineral sulfida, yang dapat menurunkan kualitas air dan
merusak lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sistem pengendalian AAT,
menentukan dosis ideal kapur tohor, menghitung biaya pengapuran, serta mengidentifikasi
faktor-faktor yang memengaruhi kebutuhan kapur harian. Metode penelitian yang digunakan
adalah pendekatan eksperimental dan observasional, meliputi uji laboratorium dengan
metode jar test dan pengamatan langsung di lapangan selama periode 28 April hingga 30
Juni 2025. Pengujian dilakukan terhadap sampel air asam tambang dengan variasi dosis kapur
tohor (0–0,5 gr/L) untuk menentukan dosis optimum dalam menaikkan pH dan menurunkan
TSS. Hasil pengujian menunjukkan bahwa dosis ideal kapur tohor untuk menaikkan pH dari
5,20 ke rentang baku mutu (6–9) adalah antara 0,1121–0,2812 gr/L, dengan kebutuhan aktual
sekitar 5 karung/hari. Namun, pemakaian lapangan mencapai rata-rata 10 karung/hari,
menyebabkan pembengkakan biaya hingga Rp 381.600.000/bulan. Faktor utama yang
memengaruhi kebutuhan kapur adalah curah hujan dan aliran run off. Penelitian ini
memberikan rekomendasi penerapan sistem monitoring otomatis dan blending system untuk
meningkatkan efisiensi pengolahan AAT serta mengurangi pemborosan bahan kimia.
Pembuat
AGUS SUPRIYANTO
Penerbit
Universitas Prabumulih
Tanggal
2025
Format
Pdf
Bahasa
Bahasa Indonesia
Tipe
Text
